Memilih Sekolah Anak, Sekolah Umum Atau Sekolah Agama?

Memilih sekolah anak, sekolah umum atau yang berbasic agama? Ini pernah jadi pertimbangan saya 2 tahun lalu saat mau mendaftarkan Thifa ke sekolah dasar. Dan sepertinya banyak orang yang galau juga saat memilih sekolah untuk anak, apakah sekolah umum saja, yang heterogen agamanya atau yang berbasic agama yang homogen dalam hal keyakinan?

Pertimbangan sebagian besar orang mungkin seperti ini, jika di sekolah umum anak-anak akan bergaul dengan orang yang memeluk agama berbeda, akan belajar tentang keragaman dan toleransi. Minusnya pelajaran agama porsinya tidak banyak. Sementara kalo disekolahkan di sekolah berbasic agama, sebut saja Islam ya. Porsi pelajaran agama cukup besar, selain teori ada juga praktek membaca Al-Quran dan hapalan surah, akan tetapi lingkup pergaulannya di sekolah dengan pemeluk agama yang sama saja.

Tapi sebenarnya yang jadi pertimbangan saya lebih ke biaya sih. Kalau di sekolah umum (negeri) kan gratis sementara di sekolah Islam (swasta) yang saya tahu bayarnya lumayan mahal. Sempat saya mendaftarkan Thifa ke sekolah negeri, dan udah diterima tinggal daftar ulang, tapi saya urungkan saat menemukan SD Islam di Semarang yang tidak jauh dari rumah, tidak terlalu mahal juga biayanya. Uang pangkalnya hanya 3,5 juta untuk pendaftar di gelombang terakhir, dan SPP nya 160 ribu perbulan. Tiap kenaikan kelas tidak ada biaya daftar ulang seperti di kebanyakan sekolah swasta lainnya. Jadi cukup ringan di kantong.

Menurut pengamatan saya saat itu, sekolahnya cukup bagus. Dari segi sarana prasarana memadai lah, meski ya ngga semewah SDIT yang belasan juta uang masuknya. Ekstra kurikulernya juga banyak, ada pencak silat, panahan, kaligrafi, tahfidz, khitobah, dll. Yayasan yang memiliki sekolah ini sudah lama berdiri. Sayapun jaman masih kecil bersekolah di yayasan tersebut meski bukan di sekolah yang sama.

Baca juga: Masuk SD Tanpa TK Terlebih Dahulu

Sekarang sudah lebih dua tahun Thifa sekolah di SD Islam tersebut. Kalo bagi saya sendiri setelah melihat apa yang dipelajari Thifa di sekolah, saya lebih memilih menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam untuk tingkatan sekolah dasar.  InsyaAlloh nanti adiknyapun akan saya masukkan di sekolah yang sama.

Pertimbangan saya, karena porsi pendidikan agama di sekolah Islam lebih besar dari sekolah umum. Tiap hari sebelum masuk sekolah anak-anak sholat Dhuha, dilanjut mengaji sesuai tingkatan masing-masing, maju satu-satu disimak. Siangnya sepulang sekolah, seminggu tiga kali, Thifa ikut ekstra tahfidz (hapalan Quran).

Agama itu sudah mencakup semua lho ya. Habluminalloh dan hablumminannas. Kita diajarkan bagaimana beribadah juga bermualamah dengan sesama makhluk termasuk diajarkan tentang toleransi umat beragama. Jadi meski pergaulan mereka umat beragama yang sama, InsyaAlloh saya ngga takut mereka menjadi orang yang intoleran. Karena selain pelajaran tentang toleransipun diberi di sekolah, sayapun selalu memberi wejangan akan hal tersebut. Lagipula, di luar sekolah mereka juga bergaul dengan teman-teman yang heterogen kok, baik itu dari agama, etnis, maupun ekonomi.

Tetangga saya yang menyekolahkan anaknya di sekolah negeri malah mengeluhkan anak-anak yang pulang menjelang sore. Karena Sabtu libur, jadi Senin-Kamis jam sekolah dipanjangkan. Karena itu, pada jam ngaji TPQ pukul 4 sore anak-anak jadi enggan berangkat karena masih capai, padahal si ibu merasa kurang pelajaran agama dari sekolah yang hanya seminggu sekali.

Tapi soal pilihan sekolah kembali ke masing-masing yaa, tiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri. Selamat mencari sekolah buat anaknya yaa buibuk, tahun ajaran baru sebentar lagi nih.

2 respons untuk ‘Memilih Sekolah Anak, Sekolah Umum Atau Sekolah Agama?

  1. Aku memilih memasukkan anak-anak ke sekolah Islam karena melihat latar belakang ilmu agama di keluarga yang lemah. Pendidikan akhlak dan akidah menurutku harus dikenalkan sejak dini. Urusan akademik, bisa menyusul kemudian. Memang betul biayanya relatif lebih mahal dibandingkan sekolah negeri. Tapi semoga para orangtua dimudahkan jalannya untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati.

    Ini hanya salah satu caraku saja. Bagi orangtua yang latar belakang agamanya lebih bagus, barangkali bisa saja membimbing putra-putrinya sendiri di rumah. Kalau aku, huhuhu … masih cethek banget, Mbak.

    • Bener nomor satu harus dasar agama dulu ya mba. Lumayan terbatukan dengan pelajaran agama di sekolah, tiap hari ngaji, dan hapalan 3x seminggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s