Mama Kerja Untuk Siapa?

Menjadi seorang ibu rumah tangga rumahan, pekerja, atau ibu yang bekerja di rumah adalah pilihan. Saya tidak bisa bilang mana yang benar, mana yang salah. Semua ada konsekunsi yang harus diterima.

Kakak saya ibu rumah tangga yang bekerja kantoran, tapi saya salut sama beliau. Meskipun bekerja dia tetap tidak melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu. Tetap menyusui anaknya, memerah ASI, bahkan sebelum ngantor dia pasti menyiapkan makanan anaknya. Sampai umur setahun anaknya dia masakin ngga pernah makan makanan instan. Padahal sewaktu lajang kaka saya paling males terjun ke dapur. Dia lebih memilih nyuci daripada masak. Sekarang, dia paling rajin mencoba resep-resep baru.

Kakak saya yang nomor dua ibu rumah tangga yang full mengurus anak dan rumah tangga, dia tidak bekerja karena menurutnya kondisi sedang tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Anaknya baru setahun lebih sedikit yang pasti membutuhkan banyak perhatian darinya. Sayapun salut padanya. Ngga semua orang betah dengan rutinitas mulia seperti itu.

Sementara saya. Ibu dua orang anak, yang memilih bekerja di rumah. Saya dan suami sepakat dengan pembagian tugas diantara kami berdua. Salah satu harus fokus mencari nafkah yaitu ayahnya, sementara saya ibunya fokus mengurus anak-anak. Saya bekerja boleh-boleh saja, tapi anak tetap yang utama. Oke deal!

Nah baru-baru ini kebetulan, saya dapet pekerjaan baru. Karena mungkin masih baru, masih penyesuaian saya jadi agak kewalahan mengatur jadwalnya.

Pagi hari saya ngebut menyelesaikan pekerjaan yang mau dikirim siang via email. Si Ayah ngalah dengan menunda keberangkatannya ke tempat kerja untuk menemani anak-anak dulu. Tapi anak yang kadang susah diajak kompromi. Si kakak minta makan, dan yang nyuapi harus saya.

“Kak mama kerja dulu ya bentaaar aja,” saya berusaha membujuk tapi tidak mempan.

“Kak, mau eskrim nggak? mau mainan kasir-kasir?” pake jurus lain mengiming-imingi dengan mainan dan harta benda.

“Mau,” jawab dia akhirnya. YES!

“Ya udah kalo gitu mama kerja dulu ya, biar dapet uang bisa beliin kakak.”

“Ngga, mama ngga boleh kerja, Ayah aja yang kerja,” katanya sambil nangis.

“Lho Ayah kan uangnya buat bayar listrik, buat makan, kalo mau mainan ya Mama harus kerja juga.” Alesyan.

Thifa tetep nangis, sambil mikir kali ya. Karena hais itu dia ngomong lagi.

“Ma, kakak ngga usah dibeliin mainan. Mama di sini aja temenin kakak.”

Deg! Merasa tertampar. Ternyata kamu tidak lebih bahagia dengan mainan jika tanpa Mama.

Jadi Mama kerja untuk siapa?

Mama, Thifa, Hana

Iklan

One thought on “Mama Kerja Untuk Siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s